Persatuan Indonesia adalah Kunci Kemenangan Kita dalam Perang Melawan Covid-19

oleh -186 views
Dr. Irwandy, SKM.,MSc.PH.,M.Kes, Anggota PERSAKMI Sulawesi Selatan

Sejarah Dunia telah mencatat bahwa Indonesia adalah Bangsa petarung. Di antara banyak Negara di Dunia ini, Bangsa Indonesia adalah satu dari sedikit negara yang memperoleh Kemerdekaannya dengan cara berjuang, bukan pemberian. Lebih kurang 350 tahun Bangsa ini berjuang untuk mendapatkan kemerdekaan tersebut. Kita meraihnya bukan karena kita memiliki persenjataan yang lebih canggih atau jumlah tentara yang lebih banyak, namun salah satu penyebabnya adalah karena adanya “Persatuan Indonesia”. Kita juga telah mempertahankan kemerdekaan tersebut lebih 74 tahun lamanya, lagi-lagi karena adanya “Persatuan Indonesia”.

Saat ini, bangsa Indonesia kembali menghadapi sebuah peperangan baru yakni “perang melawan Pandemi Covid-19”. Perang melawan Pandemi Covid-19 di Indonesia dimulai pada 2 maret 2020, ditandai dengan diumumkannya dua orang pasien positif oleh Presiden Republik Indonesia, Pak Jokowi. Hingga tanggal 28 Maret 2020, jumlah penderita telah ada sebanyak 1.115 kasus postif dengan jumlah kematian sebanyak 102 orang.

Covid-19 adalah salah satu penyakit infeksi menular baru yang disebabkan oleh Virus SARS-CoV-2. Covid-19 sendiri adalah singkatan dari Corona (CO), Virus (VI) Disease (D) dan tahun 2019 (19). Hingga saat ini belum ada vaksin atau obat khusus yang ditemukan yang dapat mengobati penyakit ini. Oleh karena itu satu-satunya cara untuk dapat memenangkan peperangan ini adalah dengan strategi pencegahan. Karena Strateginya adalah Pencegahan maka paradigma yang digunakan sebagai prioritas adalah paradigma sehat dengan panglima perang digaris terdepan adalah masyarakat itu sendiri.

BACA JUGA:  Rekomendasi Ketua Umum PP PERSAKMI untuk Penanganan Covid-19 di Sulawesi Selatan

Sebuah studi terbaru menunjukkan potensi penularan virus ini adalah melalui udara. Virus ini bisa bertahan dalam jangka waktu tertentu di udara dan menempel di permukaan benda, bergantung pada beberapa faktor, seperti panas dan kelembapan. Oleh karena itu kita disarankan untuk rutin mencuci tangan dengan air mengalir dan menggunakan sabun serta membatasi menyentuh hidung, mulut dan mata kita dengan tangan. Studi yang lain juga menemukan bahwa ketika seseorang batuk atau bersin dan mengeluarkan cairan mengandung virus, maka berpotensi akan menyebar ke udara dan bisa langsung masuk ke tubuh orang lain jika berada dalam posisi berdekatan. Karena sifat penularannya tersebut maka pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan memutus mata rantai penularan yakni menerapkan social distancing atau physical distancing atau apapun namanya, intinya adalah saling menjaga jarak fisik antar individu.

Menjaga Jarak sosial atau fisik dalam sebuah komunitas dapat dilakukan dengan melakukan lockdown atau karantina. Walau terkadang kebijakan kesehatan masyarakat seperti Lockdown atau Karantina adalah kebijakan yang kurang “populis”, namun karena menyangkut nyawa dan hajat hidup orang banyak, pemerintah harus bertindak cepat dan tegas.

Dalam ilmu kebijakan kesehatan masyarakat, salah satu faktor penting dalam tahapan siklus kebijakan adalah tahap implementasi kebijakan. Terkadang sebuah kebijakan, pada tataran konsep begitu baik namun pada tahapan implementasinya menjadi bermasalah. Salah satunya disebabkan oleh perilaku penerimaan sasaran kebijakan tersebut dalam hal ini masyarakat.

BACA JUGA:  Urgensi Partisipasi Masyarakat dalam Penanggulangan Covid-19

Di saat-saat penting seperti inilah dibutuhkan kembali yang namanya “persatuan Indonesia”. Sangat disayangkan, pemerintah saat ini telah kehilangan momentumnya dalam mengambil keputusan dengan cepat dan tepat dalam mengendalikan penyebaran virus ini pada fase awal pertumbuhan kasus. Tercatat penyebaran Covid-19 telah hampir mencapai seluruh Provinsi yang ada di Indonesia tepatnya pertanggal 28 Maret 2020 telah ditemukan di 29 Provinsi.

Mari bersama-sama, bersatu saling bahu-membahu mencegah penularan. Dahulu Panglima Besar Jenderal Soedirman pernah menjalankan taktik perang gerilya dalam menghadapi para Penjajah. Beliau beserta pasukannya masuk kehutan, gunung dan lembah untuk bersembunyi, bukan karena mereka takut tapi itu adalah strategi perang yang dilaksanakan untuk dapat mengalahkan musuh yang memiliki persenjataan yang lebih canggih dan jumlah pasukan yang lebih banyak.

Saat ini dalam perang melawan penyebaran Covid-19, kita dapat kembali memakai strategi ini, yakni dengan masuk kerumah masing-masing, bekerja, beraktifitas dan beribadah dari rumah. Strategi ini bukan menunjukkan bahwa kita takut terhadap virus ini, tapi ini adalah strategi kita dalam melakukan perlawanan. Selanjutnya yang paling penting dalam kesuksesan strategi ini adalah “Persatuan Indonesia” yang bermakna bahwa seluruh warga negara harus bersama-sama menjalankannya, karena tanpa kebersamaan tersebut, mustahil strategi ini dapat berhasil. Pelibatan seluruh komponen bangsa hingga unsur terkecil seperti RT/RW menjadi sangat penting khususnya dalam hal peningkatan partispasi masyarakat dan pengawasan pelaksanaan kebijakan.

BACA JUGA:  Persakmi Sulsel adakan Pelatihan Peningkatan Kapasitas Penyelenggara Kota sehat di Indonesia melalui Daring

Walau kecil dan masih sporadis, beberapa gerakan di masyarakat telah bangkit dalam perang besar ini. Beberapa contoh seperti penggalangan dana untuk menyiapkan Alat Pelindung Diri, bantuan makanan dan nutrisi bagi para tenaga kesehatan, promosi-promosi kesehatan yang berusaha dilakukan oleh berbagai organisasi kemasyarakat dan profesi, hingga beberapa pemilik hotel telah menyumbangkan secara sukarela seluruh kamar hotelnya sebagai tempat beristirahat bagi para tenaga kesehatan. Saatnya negara ini hadir untuk memimpin perang ini. Kepemimpinan yang kuat dibutuhkan. Para pemimpin kita tak perlu khawatir, bangsa ini memiliki banyak orang hebat yang mengetahui strategi untuk dapat membangkitkan ekonomi Indonesia nanti setelah perang berakhir, namun yang harus diingat bahwa tak satupun ahli tersebut yang memiliki keahlian untuk dapat membangkitkan nyawa warga negara yang telah gugur dalam perang ini.

Mari Bersama, kita buktikan bahwa Bangsa ini terlalu besar untuk kalah dengan sebuah Virus Kecil berukuran 120 nanometer tersebut. Bangsa ini bangsa petarung, mari kita buktikan sekali lagi, bangsa ini akan kembali menang karena adanya “Persatuan Indonesia”, sejarah akan mencatatnya dan akan kita ceritakan kepada anak cucu kita kelak, Aamiin.

Penulis: Dr. Irwandy, SKM.,MSc.PH.,M.Kes, Anggota PERSAKMI Sulawesi Selatan