CEPATNYA PENYEBARAN COVID-19

oleh -90 views
Dr. A. Rizki Amelia, Dosen FKM UMI Makassar

​COVID-19 merupakan virus yang sangat cepat mneyebar rata-orang yang terinfeksi penyakit tersebut secara tidak langsung gejalanya hamper sama denga flu biasa, beberapa pasien COVID-19 seringkali tidak jujur terhadap gejala dan riwayat perjalanan sebelumnya, ketika melakukan konsultasi dengan dokter mereka hanya mengeluh sakit tenggorakan sakit dan hidung meler ibaratnya hanya flu biasa dan jikalau ditanya riwayat perjalanan mereka mereka lantas tidak berterus terang, hal ini lah yang menjadikan cepatnya penyebaran COVID-19.

​Disisi lain pemerintah hanya menunjuk satu rumah sakit sebagai rujukan pasien COVID-19 yang harusnya untuk mengantisipasi pemerintah dapat melibatkan pelayanan kesehatan maupun pemeriksaan laboratorium, hal lain yang mneyebabkan lamabtnya penanganan COVID-19 adalh adalah lambatnya penanganan pemerintah dalam hal tidak ada penegasan mengenai social distancing secara tegas yang terpakan pemerintah, social distancing hanya dinyayikan saja padahal dalam kenyataannya beberapa pusat keramaian masih melakukan aktifitas seperti biasanya, hal lain yang menyebabkan adalah lamabatnya identifikasi pasien suspect covid-19 dengan menggunakan rapid test, rapid test ini hanya disediakan pada rumah sakit yang ditunjuk pemerintah padahal seharusnya semua rumah sakit dan laboratorium disiapkan rapid test guna menghambat laju penanganan pasien COVID-19.

BACA JUGA:  Tahap 2: FKM Unhas Peduli Dampak Covid-19

​Dalam hal lock down sebenarnya belum dapat diterapkan selama masyarakat masih mematuhi dan menjalankan adanya social distancing, untuk mencegah adanya pasien suspect COVID -19 bertambah maka diharapkan kepada seluruh masyarakat agar memeriksakan diri jika mengalami gejala seperti flu dan sesak nafas, serta yang paling terpenting adalah bagaimana pasien tersebut dapat berterus terang mengenai riwayat perjalan sebelumnya dengan begitu sangat membentu petugas medis dalam mendiagnosa pasien dalam pemantauan (PDP) dan orang dalam pemantauan (ODP)
​Sederhana saja sebenarnya untuk memutus rantai penularannya mari kita proteksi iri sendiri dulu, kalau biasa sedini mungkin menggunakan APD jika dalam keadaan sakit sehhingga tidak menebarkan virus kepada yang sehat. Nah yang sehat tolonglah hindari keramaian karena kita tidak mengetahui apakah dikeramaian tersebut ada yang sakit atau tidak. Intinya adalah tinggallan dirumah selama masa yang ditetapkan oleh pemerintah sehingga kita dapat meminimalisir atau menurunkan angka kejadian COVID-19,
Ya, dampaknya kalau masih ngotot bisa saja masyarakat mempertaruhkan hidup mereka untuk memperpanjang masa penularan COVID-19, dan mereka dapat mempertaruhkan hdiup mereka jika menganggap hal remeh hal seperti ini, banyak hal sebenarnya yang menyebabkan masyarakat abai akan social distancing yang diterpkan pemerintah salaah satu masalah klasiknya adalah mereka menganggap bahwa dengan adanya social distancing maka akan berpengaruh terhadap kehidupan perekonomian mereka. Terkecuali social distancing di ikuti dengan adanya sumbangan sukarela berupa kebutuhan pokok setiap harinya maka saya meyakini masyarakat akan patuh terhadap atiran pemerintah mengenai social distancing

BACA JUGA:  Apakah Ibu dengan Covid-19 dapat menyusui?

Satu hal yang juga yang mesti kita ketahui adalah COVID -19 sekarang sudah menjadi stigma buruk dimasyarakat pasien yang terinfeksi enggan untuk dating sendiri kerumah sakit untuk memeriksakan diri, mengiingat konsekuensi yang dapat diterima yaitu berada diruang isolasi dan tidak dapat berinteraksi dengan sanak keluarga sedangkan pada tenaga medis yang bersentuhan langsung dengan COVID-19 seringkali menjadi momok dan dijauhi dimasyarakat dengan alas an bahwa mereka sudah bersentuha langsung denga pasien COVID-19 jadi kemungkinan besar mereka juga terinfeksi.

Ingat ada keluarga yang menanti dirumah, lebih baik mencegah daripada mengobati mari memutuskan rantai penularan COVID-19 dengan menerapkan social distancing

Penulis : Dr. A. Rizki Amelia, Dosen FKM UMI Makassar