Guru Besar FKM Unhas Presentasi di Komite Ahli Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan RI

oleh -119 views
Prof. Dr. Anwar Daud, SKM, M.Kes

Guru Besar Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Anwar Daud, SKM, M.Kes. menyampaikan presentasinya di Grup Komite Ahli Kesehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, Jumat, 5 Juni 2020 pukul 13.00-16.00 WIB. Prof. Anwar yang juga diberi amanah untuk menangani Sub Komite Kesehatan Lingkungan (Pengamanan Kimia (B3), Radiasi, dan Limbah), bersama dengan Dr.rer nat Budiawan dan Supriyanto Ardjo Pawiro,Ph.D, menyampaikan paparannya tentang kondisi saat ini berkaitan dengan masalah kesehatan lingkungan. Menurut beliau pengelolaan Bahan Berbahaya dan Beracun (B3), adalah proses rangkaian kegiatan yang mencakup penyimpanan, pengumpulan, pengangkutan, pemanfaatan, pengolahan limbah B3 termasuk penimbunan hasil pengolahan tersebut. Pengelolaan limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) di Fasilitas Pelayanan Kesehatan harus direncanakan dan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya karena berpotensi meimbulkan risiko terjadinya pencemaran terhadap lingkungan dan ancaman risiko bagi kesehatan manusia akibat limbah yang tidak terkelola sebagaimana mestinya yang telah diamanahkan dalam peraturan perundang-undangan. Lebih lanjut, beliau mengatakan bahwa radiasi pengion adalah gelombang elektromagnetik dan partikel yang karena energi yang dimilikinya mampu mengionisasi media yang dilaluinya. Keselamatan dan kesehatan terhadap pemanfaatan radiasi pengion yang selanjutnya disebut keselamatan radiasi adalah upaya yang dilakukan untuk menciptakan kondisi yang sedemikian agar efek radiasi pengion terhadap manusia dan lingkungan hidup tidak melampaui nilai batas yang ditentukan.

BACA JUGA:  Mahasiswa FKM Unhas Siap Raih Juara pada LKTMI Nasional

Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (LB3) termasuk radiasi dan limbah cair di Fasilitas Pelayanan Kesehatan (limbah Fasyankes) yang belum bisa dikelola masih sangat besar. Volume limbah Fasyankes diperkirakan (290 ton) berasal dari 2.820 rumah sakit dan 9.884 puskesmas di Indonesia. “Itu belum termasuk dari klinik-klinik, unit transfusi darah dan apotek yang juga punya limbah medis. Sementara tempat untuk pengelolaan limbah medis masih sedikit dan kapasitasnya juga terbatas.

Untuk menangani masalah tersebut, beberapa program yang perlu diperkuat ke depan adalah, misalnya pengarusutamaan dalam rencana pembangunan Sarana dan Fasilitas pengelohan limbah B3, radiasi, dan limbah cair (limbah Fasyankes), monitoring, evaluasi dan pemutakhiran RENAS PB secara integrasi sektor-sektor terkait pengelolaan Limbah B3, radiasi, dan limbah cair (limbah Fasyankes), pelatihan peningkatan sumber Daya Manusia (SDM) dalam pengelolaan limbah B3 (limbah Fasyankes) dan pengolahan data dan informasi pengelolaan limbah B3, radiasi, dan limbah cair (limbah Fasyankes). Selain itu, juga perlu dilakukan misalnya kegiatan pemantauan/monitoring dan Pengelolaan data secara kontinu mengenai kuantitas atau volume limbah B3, radiasi, dan limbah cair (limbah Fasyankes), terbentuknya rencana terpadu dalam pengelolaan limbah B3 (limbah Fasyankes), dan tersusunnya dokumen (produk hukum) terkait strategi pengelolaan limbah B3, radiasi, dan limbah cair (limbah Fasyankes)

BACA JUGA:  PERSAKMI Sulsel Hadirkan Dosen University of Derby UK Dalam Diskusi Pandemi Covid-19

Setelah pemaparan materi, diberik kesempatan kepada semua anggota tim ahli untuk memberikan tanggapan. Hadir dalam pertemuan meeting zoom adalah seluruh anggota komite ahli kesehatan lingkungan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan staf kementerian bidang kesehatan lingkungan. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Direktur Kesehatan Lingkungan selaku Penanggung Jawab Komite Ahli Kesehatan Penanganan Masalah Kesehatan Lingkungan. Kegiatan tersebut akan berlanjut Jumat depan, 12 Juni 2020.